Abdul Malik Dalam Pendidikan
Abdul Malik lahir di sebuah dusun terpencil bernama Tetelan, yang berada di pinggiran hutan pegunungan Kenteng, daerah yang masih menjadi bagian administratif dari Desa Klepu. Suasana dusun tersebut saat itu masih sangat alami dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Infrastruktur yang minim, medan yang sulit dijangkau, serta keterbatasan akses terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan membuat kehidupan di daerah itu penuh dengan tantangan. Namun, suasana kebersamaan masyarakat yang erat dan nilai-nilai tradisional yang kuat menjadi kekuatan tersendiri bagi penduduknya.Malik lahir dari pasangan sederhana, Bapak Abbas dan Ibu Tuma, sebagai anak bungsu dari 14 bersaudara. Ia dilahirkan pada malam hari, tepat pukul 01.00 WIB pada tanggal 17 Juni 1978, bertepatan dengan akhir bulan Sya'ban dalam kalender Hijriah. Di tengah keterbatasan dan kondisi ekonomi keluarga yang jauh dari kecukupan, kehadiran Malik tetap disambut dengan penuh rasa syukur.
Pada pagi hari setelah kelahirannya, sang ayah memberi nama Abdul Malik, nama yang memiliki makna mendalam dalam Islam, yang berarti “hamba dari Sang Raja (Allah)”. Nama tersebut dianggap sakral dan penuh doa, mencerminkan harapan orang tuanya agar kelak anak ini tumbuh menjadi pribadi yang taat dan berwibawa. Namun, dalam percakapan sehari-hari, keluarga dan masyarakat sekitar lebih sering memanggilnya dengan sebutan Malik saja.
Sejak kecil, Malik sering mengalami gangguan kesehatan. Tubuhnya tampak lemah dan mudah terserang penyakit. Karena khawatir, orang tuanya sempat mengganti namanya menjadi Abdul Karim, dengan keyakinan bahwa perubahan nama dapat membawa keberkahan dan mengubah nasib, sebuah kepercayaan yang cukup lazim di masyarakat setempat. Namun, perubahan nama ini justru menjadi beban psikologis bagi Malik kecil. Ia kerap menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya, yang membuatnya enggan dipanggil dengan nama baru itu. Akhirnya, nama Malik kembali digunakan dan menjadi identitas yang melekat sepanjang hidupnya.
Ketika usianya menginjak 40 hari, Malik diadopsi oleh kakak kandungnya, Bapak Marwi, dan istrinya Ibu Warni. Pasangan muda tersebut telah menikah selama lima tahun namun belum juga dikaruniai keturunan. Dalam masyarakat pada waktu itu, terdapat keyakinan bahwa mengasuh anak orang lain bisa menjadi jalan terbukanya rahmat Tuhan dalam bentuk anak kandung. Maka dengan penuh kasih sayang, pasangan ini membesarkan Malik seperti anak sendiri.
Meski berpindah asuhan, kehidupan Malik tetap jauh dari kata nyaman. Keluarganya hidup dalam kemiskinan. Makanan sehari-hari sangat sederhana, sering kali hanya berupa nasi jagung, tiwul (red_olahan singkong), dan lauk seadanya, kadang hanya dengan garam atau sayur dari kebun. Nasi putih adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati saat hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, atau ketika ada tetangga mengadakan selamatan. Namun dari keterbatasan itulah, perlahan tumbuh semangat dalam diri Malik: semangat untuk berubah, untuk berjuang keluar dari kemiskinan, dan menjadi orang yang berhasil secara mandiri.
Malik berasal dari keluarga keturunan Madura. Ayah dan ibunya adalah orang Madura yang lahir di Pulau Jawa, sedangkan nenek buyutnya merupakan warga asli Madura yang hijrah ke Jawa dan menetap di sana. Lingkungan tempat Malik tumbuh besar masih sangat kental dengan nuansa budaya Madura. Nilai-nilai kerja keras, pantang menyerah, keberanian, dan religiusitas tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari. Karakter masyarakat Madura yang dikenal tegas dan tidak mudah menyerah membentuk jati diri Malik menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Masa kecil yang keras dan penuh keterbatasan tidak menjadikan Malik seorang yang lemah atau putus asa. Justru sebaliknya, kehidupan sederhana yang ia jalani menjadi batu pijakan penting dalam membentuk karakter dan mentalitasnya. Ia tumbuh menjadi anak yang ulet, berkemauan kuat, dan memiliki ambisi besar untuk menjadi orang yang lebih baik dari segi ekonomi maupun sosial. Dalam dirinya tumbuh keyakinan bahwa keberhasilan bisa diraih meski berasal dari latar belakang yang serba kekurangan, asalkan disertai usaha yang sungguh-sungguh, kejujuran, dan doa yang tak pernah putus.
Awal Masuk Sekolah
Pada usia genap tujuh tahun, Abdul Malik kecil mulai mengenyam pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Huda Klepu, sebuah lembaga pendidikan Islam yang berlokasi sekitar 3 kilometer ke arah timur dari rumahnya. Jarak yang cukup jauh tersebut setiap hari ditempuh Malik dengan berjalan kaki, dari kelas 1 hingga kelas 6, tanpa pernah mengeluh ataupun mengendurkan semangat belajarnya.Kehidupan sehari-hari Malik sebagai siswa dipenuhi keterbatasan. Ia hanya memiliki satu stel seragam sekolah, yang akan terus ia pakai selama masih muat, meskipun warnanya mulai memudar akibat sering dicuci dan usia kain yang menua. Sepatu pun hanya diganti ketika sudah benar-benar rusak atau robek parah. Bahkan untuk uang saku, jumlahnya sangat minim—paling banyak hanya Rp 50, dan lebih sering hanya mendapat Rp 25. Malik juga berangkat sekolah tanpa sarapan karena tidak ada makanan yang bisa dimakan di rumah.
Namun segala keterbatasan itu tidak pernah menjadi alasan bagi Malik untuk bermalas-malasan. Ia tetap berangkat sekolah setiap hari, tidak pernah bolos kecuali jika sedang sakit. Di musim hujan, ia kerap kehujanan karena tidak memiliki payung, namun ia tetap berjalan menembus hujan dengan baju basah agar tidak ketinggalan pelajaran.
Seiring berjalannya waktu, Malik menunjukkan kemajuan dalam akademik dan spiritualitasnya. Saat duduk di kelas 3, ia sudah mampu menghafal surat-surat pendek dalam Al-Qur'an, berkat bimbingan dan ketelatenan gurunya, Bapak Muhammad. Semangatnya dalam belajar agama dan pendidikan umum berjalan seimbang.
Prestasi akademik Malik pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketika ia duduk di:
- Kelas 4, ia berhasil meraih peringkat ke-4 di kelasnya.
- Kelas 5, pada semester ganjil ia naik ke peringkat ke-3, lalu meningkat lagi menjadi peringkat ke-2 di semester genap.
- Kelas 6, Malik menunjukkan konsistensi unggul dengan berhasil meraih peringkat pertama secara berturut-turut sepanjang tahun.
Dedikasinya terhadap pendidikan akhirnya membuahkan hasil yang gemilang. Pada ujian akhir kelas 6, Malik tercatat sebagai siswa dengan nilai tertinggi di antara seluruh teman-temannya terutama di mata pelajaran agama. Atas pencapaian itu, ia dipercaya oleh para guru untuk membawakan pidato kesan dan pesan pada acara pelepasan siswa kelas 6.
Pidato tersebut dipersiapkan dengan bimbingan dari H. Abdurrahman, guru mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), yang menuliskan teks pidato agar dapat dihafalkan dan disampaikan oleh Malik di hadapan para guru, orang tua, dan seluruh siswa yang hadir. Momen tersebut menjadi kenangan tak terlupakan dalam hidupnya dan menjadi titik awal dari tumbuhnya rasa percaya diri dan kecintaan terhadap dunia pendidikan dan komunikasi.
Tahun 1992 menjadi penanda penting dalam perjalanan hidup Abdul Malik, karena pada tahun itulah ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di MI Darul Huda Klepu. Di tengah segala kekurangan, ia membuktikan bahwa ketekunan, disiplin, dan semangat untuk maju dapat mengantarkan seseorang meraih prestasi dan menapaki tangga kehidupan yang lebih tinggi.
Mengaji Al-Qur'an
Seiring dengan dimulainya pendidikan formalnya di usia tujuh tahun, Malik kecil juga dipasrahkan oleh orang tua angkatnya kepada seorang guru ngaji di kampung bernama Ustadz Muhammad Djam’un, seorang tokoh agama yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat karena keikhlasan dan ketekunannya dalam membimbing anak-anak belajar membaca Al-Qur’an.Di bawah bimbingan Ust. M. Djam’un, Malik kecil mulai menapaki perjalanan spiritualnya dengan belajar membaca huruf-huruf hijaiyah dan mengenal dasar-dasar ilmu tajwid. Meskipun semangatnya tinggi, Malik termasuk anak yang sangat lambat dalam menguasai bacaan Al-Qur’an. Ia kerap mengalami kesulitan membaca, bahkan apa yang dipelajarinya hari ini, bisa ia lupakan keesokan harinya. Hal ini berlangsung bertahun-tahun, sehingga membuat proses belajarnya berjalan jauh lebih lambat dibandingkan teman-temannya.
Dalam pengajian tersebut, ada seorang kakak tingkat sekaligus santri senior bernama Bapak Suaji, yang turut membantu mengajarkan anak-anak di bawah bimbingan Ust. Djam’un. Suaji inilah yang sering mendampingi Malik secara langsung, mengajarkan dan mengulangi huruf-huruf Al-Qur’an dengan sabar. Namun karena kesulitan Malik dalam mengingat pelajaran, perkembangan bacaan Al-Qur’annya menjadi perhatian khusus. Sampai-sampai Bapak Suaji menyampaikan hal ini kepada orang tua angkatnya, bahwa Malik memerlukan perhatian dan kesabaran ekstra dalam belajar membaca Al-Qur’an.
Progres Malik memang lambat. Ia baru mulai bisa membaca Al-Qur’an secara utuh, meskipun terbata-bata, di usia sekitar 12 tahun. Perjalanan panjang selama hampir lima tahun lebih, sejak usia tujuh, adalah bukti bahwa ia bukan anak yang mudah menyerah, meski harus mengulang-ulang bacaan yang sama berkali-kali.
Memasuki usia 13 tahun, saat ia mulai duduk di kelas 7 Madrasah Tsanawiyah (MTs), Malik mulai diajarkan metode membaca Al-Qur’an secara Tartil oleh guru yang sama, Ust. M. Djam’un. Bacaan Tartil tidak hanya menekankan kelancaran, tetapi juga ketepatan tajwid, makhraj huruf, dan pemahaman irama yang benar dalam membaca Al-Qur’an.
Perlahan-lahan, dengan usia yang semakin matang dan semangat yang terus menyala, Malik mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tepat menjelang usia 15 tahun, ia akhirnya dapat membaca Al-Qur’an dengan lancar dan tartil, meskipun tidak secepat teman-teman lainnya. Namun, keberhasilan itu terasa lebih bermakna karena ditempuh melalui proses panjang yang penuh ketekunan dan kesabaran.
Bahkan, sejak saat itu Malik mulai dipercaya untuk ikut serta dalam kegiatan tadarus Al-Qur’an saat bulan Ramadan. Ia juga mulai menggantikan ayah angkatnya dalam kelompok jamaah hataman Al-Qur’an, sebuah tradisi lokal di mana masyarakat secara bergiliran membaca Al-Qur’an secara berjamaah sebagai bentuk ibadah bersama. Hal ini menjadi simbol bahwa Malik telah diterima sebagai pribadi yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik di tengah masyarakatnya.
Perjalanan Malik dalam mempelajari Al-Qur’an terus berlanjut hingga menjelang usia 16 tahun, yaitu bertepatan dengan selesainya pendidikan di kelas 9 MTs (setingkat SMP). Saat itulah Malik menyelesaikan pembelajaran Al-Qur’an dasar di musholla tempat Ust. M. Djam’un mengajar, dan bersiap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya di pondok pesantren.
Perjalanan panjang ini menjadi tonggak spiritual dalam hidup Malik. Dari anak yang sulit mengingat huruf-huruf hijaiyah, hingga menjadi remaja yang fasih membaca Al-Qur’an secara Tartil—semua dicapai dengan istiqamah, semangat yang tak padam, dan dorongan kuat dari lingkungan yang mendidik.
Mengaji Kitab Klasik
Ketika duduk di bangku kelas 7 MTsN Harjokuncaran, Malik remaja mengikuti sebuah kegiatan kajian kitab klasik yang diselenggarakan oleh Ustaz M. Djam'un bertempat di musholla beliau. Kegiatan ini merupakan salah satu ciri khas pendidikan ala pesantren yang mulai dikenalkan sejak dini kepada para siswa yang berpotensi melanjutkan pendidikan ke jenjang pesantren. Salah satu metode yang digunakan dalam kajian ini adalah memaknai kitab menggunakan bahasa Jawa Pegon, yaitu tulisan Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa.Tujuan utama Ustaz M. Djam’un memperkenalkan metode ini adalah untuk membekali para santri, khususnya mereka yang bercita-cita melanjutkan studi ke pondok pesantren, agar tidak mengalami kesulitan dalam memahami dan menafsirkan kitab-kitab kuning yang ditulis tanpa harakat dan penuh dengan istilah-istilah klasik.
Kegiatan kajian dimulai dengan pengenalan dasar-dasar menulis huruf Pegon. Setelah para santri, termasuk Malik, mulai terbiasa dan mampu menulis dengan tulisan tersebut, barulah dilanjutkan dengan praktik langsung pada salah satu kitab dasar, yaitu Kitab Mubadi’ Juz 4. Kajian ini berlangsung secara rutin setiap sore hari, dimulai pukul 15.00 WIB (setelah salat Asar) hingga menjelang Maghrib sekitar pukul 17.00 WIB. Kegiatan ini hanya diliburkan pada malam Jumat, mengikuti tradisi santri yang lazim di berbagai pesantren.
Selain Kitab Mubadi’, para santri juga diajarkan beberapa kitab penting lainnya yang merupakan bagian dari kurikulum klasik ilmu pesantren, antara lain:
- Kitab Aqidatul Khomsin (Aqoid 50), yang memuat ajaran tauhid, khususnya mengenai 20 sifat wajib Allah, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat jaiz, serta sifat-sifat wajib bagi para rasul.
- Kitab Ta’limul Muta’allim, yang mengajarkan adab dan etika penuntut ilmu.
- Kitab Usfuriyah, kumpulan kisah dan hikmah yang dikemas dalam bentuk cerita-cerita menarik.
- Kitab Haditsul Arba’in (Arba'in Nawawi), yaitu kumpulan 40 hadits pilihan Imam Nawawi yang menjadi fondasi pemahaman ajaran Islam.
Dalam kegiatan ini, Malik remaja termasuk santri yang menonjol. Ia dianggap mampu mengikuti kajian dengan baik, memahami isi kitab, dan membaca dengan lancar. Karena kemampuannya tersebut, Ustaz M. Djam’un kerap memintanya untuk mengulang bacaan dan makna yang telah beliau sampaikan, agar santri lain yang tertinggal bisa lebih memahami isi pelajaran. Peran ini membuat Malik tidak hanya belajar, tetapi juga mengasah kemampuan menyampaikan dan menjelaskan, sebagaimana tradisi musyawaroh dalam pesantren.
Kajian kitab bersama Ustaz M. Djam’un ini diikuti Malik selama tiga tahun, yakni sejak 1992 hingga 1994, bertepatan dengan masa studinya di MTsN Harjokuncaran. Walaupun pada waktu itu Malik belum sepenuhnya memutuskan untuk melanjutkan ke pondok pesantren, pengalaman selama tiga tahun mengikuti kajian klasik ini menjadi bekal spiritual dan intelektual yang sangat berharga. Bekal tersebut kelak akan sangat berguna jika ia memilih untuk memperdalam ilmu agama di pesantren, atau sekadar menjadi landasan kuat dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim yang paham agama.
Pendidikan di Madrasah Tsanawiyah
Tahun 1992, tepatnya pada bulan Juli, menjadi babak baru dalam kehidupan Abdul Malik remaja. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di MI Darul Huda Klepu, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Harjokuncaran, sebuah madrasah negeri yang cukup ternama di wilayah tersebut.Ia tidak sendiri. Bersama delapan teman sekampungnya (enam laki-laki dan dua perempuan), mereka membentuk rombongan kecil pelajar dari dusun terpencil Tetelan yang bersemangat menuntut ilmu, meski harus menghadapi banyak tantangan setiap hari.
Jarak antara rumah dan MTsN Harjokuncaran mencapai sekitar 4 kilometer sekali jalan, sehingga total 8 kilometer harus ditempuh setiap hari oleh Malik dan teman-temannya. Mereka berjalan kaki melewati kebun kopi dan tebu, melintasi jalanan sepi tanpa rumah penduduk hingga menjelang lokasi madrasah.
Setiap pagi, mereka harus berangkat pukul 06.00 WIB, berjalan dalam udara dingin dan kabut pagi hari. Ketika musim hujan tiba, mereka seringkali melepas sepatu agar tidak rusak dan baru memakainya kembali saat mendekati madrasah. Jalan yang becek dan berlumpur tidak menjadi alasan untuk absen. Malik dan teman-temannya tetap berjalan meski pakaian basah, sepatu kotor, dan kaki lecet menjadi pemandangan harian.
Waktu pulang pun tidak kalah melelahkan. Setelah selesai belajar sekitar pukul 13.40, mereka kembali menempuh perjalanan kaki sejauh 4 kilometer ke rumah masing-masing. Jika cuaca bersahabat, Malik biasanya tiba di rumah sekitar pukul 14.15 WIB.
Sebagai anak dari keluarga kurang mampu, uang saku Malik hanya Rp 200 setiap hari, jumlah yang sangat kecil bahkan untuk sekadar membeli jajanan sederhana di sekolah. Sarapan pagi hampir tidak pernah ia nikmati, karena harus segera berangkat, sementara orang tua angkatnya sudah berangkat ke ladang sebagai buruh tani.
Sesampainya di rumah, ia hanya makan nasi jagung dengan lauk seadanya, biasanya hanya berupa sambal atau ikan asin, lalu melaksanakan salat dan mempersiapkan jadwal pelajaran untuk esok hari. Tepat pukul 15.00, ia kembali ke musholla tempat belajar Al-Qur’an bersama Ustadz M. Djam’un, melanjutkan rutinitas yang telah ia jalani sejak kecil.
Libur sekolah bukanlah waktu untuk bersantai bagi Malik. Justru di waktu itulah ia membantu orang tua mencari rumput di hutan untuk pakan kambing. Pada saat libur semester, ia bahkan ikut bekerja sebagai buruh angkut batu di sekitar kampungnya, pekerjaan berat yang dilakukan demi membantu perekonomian keluarga.
Selama tiga tahun bersekolah di MTsN Harjokuncaran, Malik hanya memiliki: (1) Satu tas lusuh yang telah sobek di beberapa bagian. (2) Tiga stel seragam yang ia pakai bergantian sejak kelas 7 hingga lulus kelas 9. Seragam itu telah kusam dan usang, namun tetap ia kenakan dengan rapi. (3) Sepatu baru hanya dibelikan jika yang lama benar-benar tidak bisa dipakai.
Ketika Malik mengeluhkan kondisi peralatan sekolahnya, orang tua angkatnya hanya berkata, "Sabar ya, Nak. Kalau sudah ada rezeki, nanti dibelikan yang baru." Malik sadar bahwa kalimat itu bukan janji pasti, melainkan penghiburan dalam keadaan sulit. Ia hanya tersenyum dan diam, berusaha menerima kenyataan dengan hati yang tabah.
Malik remaja sering mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan guru di kelas. Ia merasa ketinggalan dalam memahami konsep atau keterangan yang diberikan. Namun, ia tidak menyerah. Malik mengembangkan strategi belajarnya sendiri, yaitu menghafalkan seluruh materi pelajaran yang diajarkan, baik itu pelajaran umum maupun agama.
Tanpa ia sadari, kebiasaan menghafal ini justru menjadi kekuatannya. Setiap ujian, baik ujian tengah semester maupun akhir semester, ia selalu berhasil meraih peringkat pertama di kelas. Prestasi itu ia pertahankan secara konsisten sejak kelas 7 hingga lulus di kelas 9.
Prestasi Malik yang gemilang membuat para guru dan teman-temannya terkesan. Banyak yang bertanya, apa rahasia keberhasilannya. Malik hanya menjawab dengan polos, "Saya hanya menghafal semua yang diajarkan." Banyak yang tidak percaya bahwa hafalan saja bisa membuatnya menguasai berbagai mata pelajaran.
Puncaknya adalah ketika pelaksanaan Ujian Nasional (UAN) atau ujian akhir. Malik berhasil meraih nilai Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) atau NEM tertinggi di sekolahnya. Karena prestasi tersebut, ia mendapat undangan khusus dari sebuah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) untuk melanjutkan pendidikan tanpa tes masuk.
Namun sayangnya, kesempatan emas itu harus dilepaskan karena keterbatasan biaya. Orang tua angkatnya tidak mampu membiayai kebutuhan sekolah di tingkat atas. Mereka hanya berpesan agar Malik bersabar dan menunggu jika nanti ada rezeki, ia akan dipondokkan ke pesantren sebagai langkah berikutnya dalam menuntut ilmu.
Pada Juni 1994, Abdul Malik berhasil menyelesaikan pendidikan tiga tahunnya di MTsN Harjokuncaran. Momen penting ini ditandai dengan wisuda sederhana dan penerimaan ijazah. Tiga tahun masa pendidikannya merupakan periode penuh perjuangan yang takkan pernah terlupakan, di mana ia harus berjuang mengejar prestasi di tengah berbagai keterbatasan dan kekurangan.
Saat delapan teman sekampungnya telah memiliki rencana jelas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, Malik justru menghadapi kebimbangan. Ia terbentur masalah biaya yang menjadi penghalang besar untuk mewujudkan cita-cita pendidikannya. Situasi ini menimbulkan kegelisahan mendalam dalam dirinya, sementara teman-temannya sudah bersiap untuk melanjutkan studi ke berbagai madrasah dan pesantren.
Pendidikan Di Pesantren Sukosari
Setelah lulus dari MTsN Harjokuncaran pada tahun 1994, Abdul Malik sempat bimbang tentang kelanjutan pendidikannya. Dengan penuh rasa hormat, ia bertanya kepada ibu angkatnya apakah diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sang ibu menjawab bahwa jika ia bersedia menunggu selama satu tahun hingga ada biaya, maka ia bisa melanjutkan. Mendengar jawaban tersebut, Malik remaja merasa berat. Dengan tulus ia berkata, “Kalau memang tidak ada biaya, tidak apa-apa saya tidak melanjutkan saja. Lebih baik saya bekerja membantu orang tua.”Namun, beberapa hari kemudian, seusai salat Isya’, ayah angkatnya memanggil Malik dan menawarkan dua pilihan: apakah ia ingin mondok di Ganjar atau di Sukosari. Dengan mantap Malik menjawab bahwa ia lebih memilih mondok di Sukosari. Tiga hari setelah percakapan tersebut, tepatnya pada hari Rabu, Malik diberangkatkan ke Pondok Pesantren Sukosari, diantar langsung oleh orang tua, Ustaz M. Djam’un, dan Bindoro Paimo (yang dikenal dengan sebutan Mbah Mujar).
Pondok yang menjadi tujuan Malik ini bernama Pondok Pesantren Rubath An-Naqsyabandiyah Sukosari, yang diasuh oleh seorang ulama kharismatik, KH. Latifi Baidhowi. Di sinilah Malik memulai babak baru dalam kehidupannya sebagai santri. Ia mulai memperdalam ilmu-ilmu dasar pesantren, terutama ilmu nahwu dan sharaf (tasrif), dua ilmu penting yang menjadi kunci dalam memahami dan membaca kitab kuning, yaitu kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat.
Kehidupan di pondok pesantren ternyata sangat berbeda dari apa yang dibayangkan sebelumnya. Bagi Malik remaja, masa awal nyantri menjadi tantangan tersendiri yang mendewasakan, baik secara mental maupun spiritual. Di pesantren, para santri tidak hanya dituntut untuk belajar ilmu agama, tetapi juga dilatih untuk hidup mandiri dalam arti yang sesungguhnya.
Tidak ada lagi kenyamanan seperti di rumah. Tidak ada orang tua yang menyiapkan makanan, mencuci pakaian, atau memenuhi kebutuhan harian. Semua harus dilakukan sendiri—dari mencuci baju, memasak makanan, membersihkan kamar, hingga mengatur jadwal belajar dan ibadah. Pondok menjadi tempat pendidikan kehidupan, bukan hanya pendidikan intelektual.
Salah satu pelajaran paling nyata yang dirasakan Malik adalah bagaimana mengatur keuangan dengan sangat hemat. Saat itu, ia hanya menerima uang bulanan sebesar Rp50.000, jumlah yang sangat terbatas, bahkan untuk standar tahun 1990-an. Namun, dari jumlah itu, ia harus mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya selama satu bulan penuh.
Pengeluaran tersebut mencakup:
- Makan sehari-hari, termasuk membeli beras, sayur, lauk-pauk, atau kadang memasak sendiri bersama teman sekamar.
- Kebutuhan mencuci, seperti sabun cuci, deterjen, dan keperluan kebersihan lainnya.
- Biaya pendidikan, mulai dari uang sekolah, kitab-kitab yang harus dibeli, hingga iuran rutin pondok.
- Perlengkapan pribadi, seperti sabun mandi, pasta gigi, dan kebutuhan lainnya.
Kondisi ini secara perlahan membentuk karakter Malik menjadi pribadi yang tangguh, sederhana, dan penuh perhitungan. Ia belajar bahwa hidup bukan tentang kelimpahan, tetapi tentang kemampuan untuk mengelola keterbatasan dengan bijak. Lebih dari itu, ia merasakan bahwa hidup sederhana di pesantren justru membawa keberkahan. Dalam keterbatasan itu, tumbuh rasa syukur, solidaritas antar santri, dan semangat untuk terus belajar.
Tidak jarang, Malik dan teman-teman sekamarnya saling membantu. Jika satu dari mereka kehabisan sabun atau tidak memiliki uang untuk membeli nasi, yang lain akan berbagi seikhlasnya. Kebersamaan dan semangat gotong royong menjadi kekuatan utama yang membuat kehidupan di pondok terasa hangat, meski serba sederhana.
Pengalaman inilah yang kelak menjadi fondasi kuat dalam kehidupan Malik di kemudian hari. Pondok bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat pembentukan karakter, tempat di mana ia belajar menjalani hidup dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan kemandirian.
Terkait Pembelajaran. Malik remaja mengalami kesulitan besar dalam memahami pelajaran. Ia merasa minder karena banyak santri lain yang usianya lebih muda justru sudah mahir membaca kitab kuning, sementara ia masih kesulitan memahami struktur dasar kalimat Arab. Perasaan malu itu tidak membuatnya menyerah, justru sebaliknya, menjadi cambuk yang mendorong semangatnya untuk membuktikan bahwa ia juga mampu.
Demi mewujudkan impiannya, Malik menekuni Kitab Al-Jurumiyah, kitab dasar ilmu nahwu, dengan penuh kesungguhan. Ia membacanya berulang-ulang hingga khatam beberapa kali dalam sehari semalam. Tak terasa satu tahun berlalu, dan waktu-waktu senggang di sela-sela kegiatan belajar di Madrasah Aliyah pun ia manfaatkan untuk memperdalam penguasaan kitab secara mandiri di dalam kamar.
Memasuki tahun kedua, terlihat tanda-tanda bahwa Malik mulai mampu membaca kitab kuning, meskipun masih dengan terbata-bata. Melihat perkembangan ini, KH. Zahid Latifi, putra pengasuh pondok, mulai melibatkan Malik dalam pengajian Kitab Mutammimah, lanjutan dari Jurumiyah. Selama hampir satu tahun penuh, Malik mendalami kitab tersebut langsung di rumah KH Zahid. Perkembangannya pun makin terlihat; kemampuan membacanya makin membaik meskipun belum sempurna.
Menjelang tahun ketiga, datanglah Gus Subhan, cucu KH. Latifi Baidhowi, yang baru saja kembali ke rumah setelah menyelesaikan masa belajarnya di Pondok Pesantren Al-Atiq Ngrangkok, Kediri. Gus Subhan memulai kajian-kajian kitab klasik di pondok, seperti Fathul Qarib dan beberapa kitab penting lainnya. Melihat semangat Malik yang tinggi dalam mengikuti pengajian-pengajian tersebut, Gus Subhan kemudian menyuruhnya membeli Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, yang akan diajarkan langsung secara pribadi oleh beliau.
Selama satu tahun penuh, Malik mempelajari Ihya’ Ulumuddin di bawah bimbingan Gus Subhan. Interaksi yang intens ini membawa dampak besar terhadap perkembangan keilmuan dan spiritualitas Malik. Melihat ketekunannya, Gus Subhan kemudian menyarankan agar Malik melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Al-Atiq Ngrangkok, Kediri, tempat beliau menimba ilmu sebelumnya. Malik pun menyampaikan niat ini kepada KH Zahid Latifi. Sang kiai memberikan restu, namun meminta Malik untuk menyelesaikan terlebih dahulu pendidikannya di Madrasah Aliyah.
Setelah lulus pada tahun 1997, Malik resmi berangkat ke Pondok Pesantren Al-Atiq Ngrangkok, Kediri. Perjalanan ini pun ia tempuh bersama Gus Subhan yang mengantarnya langsung ke pondok barunya, membuka lembaran baru dalam perjalanannya menuntut ilmu agama.
Pendidikan Di Madrasah Aliyah
Setibanya di Pondok Pesantren Rubath An-Naqsyabandiyah Sukosari pada pertengahan tahun 1994, Abdul Malik tidak hanya fokus menimba ilmu agama, tetapi juga melanjutkan pendidikan formalnya. Kebetulan di lingkungan pondok juga terdapat Madrasah Aliyah (MA) Darul Ulum Sukosari, sebuah lembaga pendidikan setingkat SMA yang berada dalam naungan yayasan pondok. Meskipun saat itu MA Darul Ulum belum memiliki gedung permanen, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan meminjam gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum.Kegiatan belajar di MA Darul Ulum berlangsung pada siang hingga sore hari, dimulai pukul 13.00 WIB, setelah siswa MI pulang, dan berakhir pukul 17.00 WIB. Suasana sekolah ini cukup dinamis dengan siswa yang berasal dari berbagai penjuru nusantara, mulai dari Pontianak, Madura, Situbondo, hingga Makasar, yang semuanya menambah warna keberagaman dalam proses belajar.
Pada bulan Juli 1994, Abdul Malik resmi diterima di kelas 10 MA Darul Ulum bersama sekitar 30 siswa lainnya. Sejak awal, ia menunjukkan kemampuan akademik yang menonjol, terutama dalam mata pelajaran umum, seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Hal ini membuatnya cepat dikenal oleh teman-temannya sebagai sosok yang pandai dan bisa diandalkan. Tidak sedikit teman sekelasnya yang menjadikan Malik sebagai rujukan utama saat mengalami kesulitan belajar.
Kepiawaiannya di bidang akademik terutama di mata pelajaran umum segera menarik perhatian para guru. Nama Malik mulai dikenal luas, bukan hanya di antara teman sekelas, tetapi juga di kalangan dewan guru. Pada semester ganjil dan genap kelas 10, Malik berhasil meraih peringkat tertinggi secara berturut-turut, sebuah pencapaian luar biasa yang makin mengukuhkan posisinya sebagai siswa teladan.
Ketika memasuki kelas 11, Malik dipercaya memegang tanggung jawab besar sebagai Ketua OSIS MA Darul Ulum Sukosari. Penunjukan ini bukan tanpa alasan; organisasi OSIS di madrasah tersebut sebelumnya sempat fakum dalam waktu yang cukup lama. Tugas berat pun menanti: Malik harus merintis kembali struktur organisasi, menyusun tupoksi (tugas pokok dan fungsi), merancang program kerja, serta memperbaiki sarana dan prasarana pendukung kegiatan OSIS.
Dengan penuh dedikasi dan semangat, Malik memimpin proses revitalisasi OSIS. Selama satu tahun kepengurusan di bawah kepemimpinannya, OSIS MA Darul Ulum kembali aktif dan mulai menunjukkan kehidupan organisasi yang sehat dan produktif. Meski disibukkan dengan berbagai kegiatan organisasi, prestasi akademiknya tidak menurun. Ia tetap berhasil mempertahankan peringkat 1 di kedua semester kelas 11.
Memasuki kelas 12, tantangan kembali datang. Kepala madrasah memberikan instruksi untuk mengadakan program belajar bersama dalam rangka persiapan Ujian Nasional (UN). Malik, yang dikenal disiplin dan bertanggung jawab, turut mengoordinasikan pelaksanaan program ini bersama rekan-rekan sekelasnya. Hasilnya sangat memuaskan: program berjalan lancar dan memberikan dampak positif terhadap kesiapan siswa menghadapi UN.
Di tahun terakhirnya di MA Darul Ulum, Abdul Malik kembali mempertahankan prestasi sebagai peringkat 1 di kedua semester kelas 12. Bahkan, saat pelaksanaan Ujian Nasional, ia berhasil meraih nilai tertinggi di antara seluruh siswa MA Darul Ulum Sukosari. Prestasi ini membuatnya menerima undangan masuk ke Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Sayangnya, karena keterbatasan biaya, kesempatan emas itu harus ia relakan.
Di balik gemilang prestasinya, ada kisah perjuangan yang menyentuh. Selama tiga tahun belajar di MA Darul Ulum, Malik tidak mampu membeli buku pelajaran cetak. Untuk tetap bisa belajar, ia meminjam buku milik teman, bahkan sering kali belajar saat teman-temannya tertidur, dengan diam-diam membuka buku milik teman tersebut di malam hari. Ketekunan dan semangatnya untuk belajar tanpa fasilitas memadai inilah yang membuatnya layak dijadikan teladan.
Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan prestasinya, Malik diberi kehormatan untuk menyampaikan sambutan pesan dan kesan pada acara perpisahan kelas 12. Dalam pidatonya, ia menyampaikan motivasi yang menggugah semangat kepada adik kelas agar tidak pernah menyerah dalam keterbatasan dan terus berjuang meraih cita-cita.
Akhirnya, pada bulan Juni 1997, ijazah Madrasah Aliyah Darul Ulum Sukosari resmi diterbitkan, menandai selesainya masa pendidikan Abdul Malik di madrasah tersebut. Tamatnya pendidikan ini bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan hidupnya yang akan lebih luas, membawa bekal ilmu, akhlak, dan pengalaman hidup yang sangat berharga.
Pendidikan Di Pesantren Kediri
Setelah menuntaskan pendidikan formalnya di MA Darul Ulum Sukosari pada pertengahan tahun 1997, Abdul Malik mantap melangkah untuk melanjutkan pendalaman ilmu agamanya, khususnya dalam bidang kajian kitab kuning, sebagaimana telah direncanakan dan dianjurkan oleh gurunya, Gus Subhan. Dengan tekad yang kuat dan semangat menuntut ilmu yang tak pernah padam, Malik pun berangkat ke Pondok Pesantren Al Atiq, yang terletak di Ngrangkok, Kandangan, Kediri.Keberangkatan itu tidak dilakukannya sendiri. Gus Subhan secara langsung mengantarkan Malik ke pondok pesantren yang dikenal sebagai salah satu pusat kajian kitab klasik di wilayah Kediri. Pondok Al Atiq ini diasuh oleh Kiyai Sholihin Safi'i yang memiliki sanad keilmuan kuat serta dikenal karena konsistensinya dalam melestarikan tradisi pesantren yang murni, terutama melalui pengajian kitab-kitab kuning ngaji kilatan.
Pondok Pesantren Al Atiq memiliki sistem pendidikan khas pesantren salaf yang menitikberatkan pada kajian mendalam terhadap kitab-kitab turats (klasik), mencakup berbagai disiplin ilmu:
- Tafsir: seperti Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Abbas, dan Tafsir Ibnu Katsir.
- Hadits: melalui kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lainnya.
- Fiqih: termasuk Mahalli, Fathul Wahhab, Fathul Mu'in, Iqna’ dan Fathul Qarib.
- Tasawuf: salah satunya melalui karya agung Ihya Ulumuddin.
- Tauhid, Balaghoh, dan Nahwu Sharaf: sebagai pondasi dalam memahami teks Arab gundul.
Tradisi kilatan ini bukanlah hal aneh di kalangan pesantren-pesantren wilayah Kediri dan sekitarnya. Bahkan setiap bulan Muharram, pondok ini menyelenggarakan ijazah dan pembacaan kitab-kitab hikmah, seperti Syamsul Ma’arif, Manba’ul Ushulil Hikmah, Dalailul Khairat, dan kitab hikmah lainnya. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi santri yang haus ilmu dan spiritualitas tinggi.
Sebagai santri muda yang baru menginjak usia 17 tahun, Abdul Malik sangat antusias mengikuti semua kegiatan pondok. Setiap ada ijazah, pengajian kilatan, atau khataman kitab, ia selalu hadir dan aktif berpartisipasi, didorong oleh rasa ingin tahu dan semangat belajar yang tinggi.
Rutinitas harian di Pondok Al Atiq sangat padat dan disiplin, membentuk pribadi santri yang terlatih dan teruji. Berikut adalah jadwal harian pengajian yang diikuti Abdul Malik:
- 08.00 – 11.00: Pengajian Ihya Ulumuddin
- 13.00 – 15.00: Pengajian kitab Mahalli
- 16.00 – 17.00 (setelah Asar): Tafsir Jalalain dan Ibnu Abbas
- Setelah Maghrib – Isya: Pengajian Al-Qur’an
- 19.30 – 22.30 (setelah Isya): Tafsir Ibnu Katsir
- 00.00 – 01.00 dini hari: Mujahadah (zikir dan riyadhah malam)
Abdul Malik menjalani masa mondok di Al Atiq selama dua tahun (1997–1999). Meski tergolong singkat, namun penuh dengan pengalaman berharga dan kenangan tak terlupakan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah kondisi ekonomi. Ia harus menjalani hidup dalam serba kekurangan—terkadang bahkan makan karak (sisa nasi yang dikeringkan), atau tiwul (olahan dari gaplek) dengan lauk seadanya yang ia cari di sawah-sawah warga sekitar pondok.
Namun, segala keterbatasan itu tidak mengurangi semangatnya untuk terus belajar dan bertahan. Justru keadaan tersebut membentuk mentalnya menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan tidak mudah mengeluh. Tekanan hidup yang dihadapi selama mondok menjadikannya lebih bersyukur, sabar, dan bersandar penuh kepada Allah SWT.
Selama dua tahun di Pondok Pesantren Al Atiq, Abdul Malik berhasil menyerap banyak ilmu, memperkuat fondasi keilmuan Islamnya, serta memperluas wawasan spiritual dan sosial. Ia tidak hanya belajar ilmu agama secara tekstual, tetapi juga mengalami langsung bagaimana hidup dalam kesederhanaan, ukhuwah islamiyah antar-santri, dan pengamalan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan sehari-hari.
Mengajar Di Sukosari Gondang Legi
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Al Atiq Ngrangkok, Kediri pada tahun 1999, Abdul Malik kembali ke pondoknya semula, tepatnya ke Pondok Pesantren Rubath An-Naqsyabandiyah Sukosari, Kecamatan Gondanglegi. Kepulangan Malik bukan tanpa tujuan, ia ingin memohon izin kepada gurunya, KH. Zahid Latifi, untuk berhenti sementara dari dunia pesantren dan mencoba peruntungan bekerja di Arab Saudi, dengan harapan dapat membantu perekonomian keluarga.Namun, sebelum sempat menyampaikan niat tersebut, KH. Zahid memanggil Malik dan memberinya amanah besar: menggantikan beliau untuk mengajar kitab Bulughul Maram di MA Darul Ulum Sukosari. Amanah ini bukan sekadar lisan; KH. Zahid bahkan menyerahkan selembar kain seragam pribadi kepada Malik agar dijahit dan digunakan sebagai seragam resmi ketika mengajar. Ini menjadi isyarat kepercayaan sekaligus restu penuh dari sang guru.
Meskipun berat hati karena keinginannya untuk ke luar negeri harus tertunda, Malik tak kuasa menolak perintah guru yang sangat dihormatinya. Dengan tekad dan rasa tanggung jawab, ia pun menerima amanah tersebut dan mulai mengajar di MA.
Tak berselang lama, Kepala MI Darul Ulum Sukosari, Ibu Suti’ah, juga meminta Malik untuk mengajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris di MI. Setelah mendapat restu kembali dari KH. Zahid, Malik menambah perannya sebagai guru di dua lembaga pendidikan: MA dan MI Darul Ulum Sukosari.
Kemudian, pada awal semester genap tahun pelajaran 1998/1999, Kepala MTs Darul Ulum Sukosari, Bapak Hasan Bisri, juga meminta Malik untuk mengisi mata pelajaran Tasrif di MTs. Maka, dalam waktu kurang dari satu tahun, Malik resmi mengajar di tiga satuan pendidikan sekaligus: MA, MTs, dan MI Darul Ulum Sukosari.
Seiring berjalannya waktu, beban tanggung jawab yang menumpuk mulai terasa berat bagi Malik. Ia pun kembali menghadap KH. Zahid untuk memohon izin berhenti mengajar di MA dan hanya fokus di MTs dan MI. Permintaan tersebut dikabulkan dengan penuh pengertian oleh KH. Zahid.
Setelah enam tahun mengabdi di MTs, Malik kembali memohon izin kepada Bapak Hasan Bisri untuk berhenti dari MTs dan memilih fokus hanya di MI. Keputusan ini diambil karena sejak tahun 2005 Malik juga mulai mengajar di MTs Miftahul Huda Prangas, dan pada 2007 ditambah lagi dengan amanah mengajar Bahasa Arab di MA Darul Huda Klepu, sebuah madrasah baru yang ia turut rintis bersama para guru lain. Karena jadwal yang semakin padat, Malik pun menetapkan prioritas dan memilih hanya aktif di tiga lembaga: MI Darul Ulum Sukosari, MTs Miftahul Huda Prangas, dan MA Darul Huda Klepu.
Di luar tugas mengajar, Abdul Malik dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan kelembagaan. Ia sering berkolaborasi dengan Bapak Hasan Bisri dalam menyelenggarakan acara-acara besar seperti pelepasan siswa dan wisuda. Selama bertahun-tahun, ia dipercaya menjadi pelatih upacara dan panitia utama, menjalankan peran tersebut dengan tulus dan penuh keikhlasan sebagai bentuk khidmat kepada guru, madrasah, dan pondok yang telah membesarkannya. Bahkan dalam setiap pelaksanaan ujian madrasah, ia selalu berduet dengan Bapak Karomat sebagai tim utama panitia ujian, dan dedikasi ini berlangsung hingga tahun 2013.
Patut diketahui, dari tahun 1999 hingga 2004, Malik mengajar sambil tetap tinggal di Pondok Sukosari, yang jaraknya relatif dekat dengan MI Darul Ulum. Namun, setelah menikah pada tahun 2004, ia pindah ke rumahnya di Sumbermanjing Wetan, yang berjarak sekitar 15 km dari MI Darul Ulum Sukosari. Jarak yang cukup jauh ini tetap ia tempuh dengan penuh semangat selama hampir sembilan tahun.
Namun, pada tahun 2013, karena berbagai pertimbangan seperti jarak tempuh yang jauh dan jadwal kegiatan yang sangat padat, Malik kembali menghadap KH. Zahid untuk memohon izin berhenti mengajar di MI Darul Ulum Sukosari. Meskipun berat, KH. Zahid menerima permintaan tersebut dengan syarat Malik harus terlebih dahulu mencarikan guru pengganti yang sesuai. Setelah mendapatkan pengganti yang tepat, Malik pun berpamitan secara resmi kepada kepala madrasah dan seluruh dewan guru.
Keputusan ini menandai berakhirnya masa pengabdian Malik di MI Darul Ulum Sukosari setelah lebih dari satu dekade memberikan dedikasi dan tenaga, sebuah perjalanan panjang yang penuh nilai perjuangan dan pengabdian kepada ilmu dan pendidikan.
Mengajar di MTs Miftahul Huda Prangas dan MA Darul Huda Klepu
Pada tahun 2005, Bapak Mukit dan Bapak M. Sakur, atas nama Kepala MTs Miftahul Huda Prangas, yakni H. Abdulloh, mengajak Abdul Malik untuk bergabung sebagai guru mata pelajaran Fisika. Saat itu, Malik sebenarnya merasa ragu dan kurang percaya diri, karena ia belum memiliki ijazah S-1 di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Namun, kedua guru senior tersebut meyakinkan bahwa latar belakang akademik bukan halangan untuk mulai mengajar, dan semua kemampuan bisa dipelajari sembari berjalan. Setelah mempertimbangkan saran dan dorongan tersebut, Malik pun menyanggupi tawaran itu dan resmi bergabung sebagai guru Fisika di MTs Miftahul Huda Prangas.Dengan tekad kuat untuk memberikan pembelajaran terbaik bagi para siswa, Malik mulai belajar secara mandiri untuk menguasai mata pelajaran Fisika. Ia memanfaatkan berbagai sumber belajar dan berdiskusi dengan rekan guru untuk mendalami materi. Hasilnya tidak mengecewakan—proses belajar mengajar berjalan lancar, dan nilai siswa-siswanya tidak kalah dibandingkan siswa di madrasah unggulan lain di wilayah tersebut, termasuk MTsN Harjokuncaran (kini bernama MTsN 04 Malang). Capaian ini memotivasi Malik untuk terus memberikan pembelajaran yang berkualitas, meskipun ia belum memiliki kualifikasi akademik formal di bidang IPA.
Pada tahun 2007, datang kesempatan kuliah kelas jauh dari STIT Raden Rahmat Kepanjen (yang kini dikenal sebagai Universitas Islam Raden Rahmat – UNIRA), khusus bagi para guru di daerah yang belum memiliki ijazah S-1. Jurusan yang tersedia hanya Pendidikan Agama Islam (PAI), namun Malik melihat ini sebagai peluang besar untuk meningkatkan kapasitas akademiknya.
Bersama sejumlah guru dari wilayah Sumbermanjing Wetan, Malik mengikuti program perkuliahan tersebut. Perjuangannya tidak ringan, terutama dari segi biaya dan waktu, namun berkat ketekunan dan semangat tinggi, akhirnya pada tahun 2010, Malik berhasil menyelesaikan studi S-1 dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I).
Masih di tahun yang sama saat ia mulai kuliah, yaitu 2007, Malik mendapat panggilan dari H. Abdul Rahman, Ketua Yayasan Darul Huda, untuk ikut mendirikan MA Darul Huda Klepu sekaligus mengajar Bahasa Arab. Meskipun jadwal Malik sudah padat dengan tugas mengajar dan kuliah, ia menyambut ajakan ini sebagai bentuk pengabdian terhadap dunia pendidikan.
Malik mulai mengajar sejak madrasah itu berdiri, bahkan ketika belum memiliki gedung sendiri. Ia turut menyaksikan dan menjadi bagian dari proses perjuangan madrasah tersebut hingga memiliki bangunan permanen dan memperoleh akreditasi B, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi semua pihak.
Namun, setelah tujuh tahun mengabdi, pada pertengahan tahun 2013, Malik pamit dari MA Darul Huda Klepu. Keputusan ini diambil karena tanggung jawabnya di MTs Miftahul Huda Prangas semakin besar dan menuntut perhatian penuh, baik dari segi waktu maupun tenaga.
Meskipun berat, para guru dan pengurus madrasah menerima keputusan Malik dengan lapang dada, dan melepaskannya dengan penuh hormat serta penghargaan atas dedikasi, perjuangan, dan kontribusinya yang luar biasa dalam membangun MA Darul Huda Klepu sejak awal berdiri.
Setelah secara resmi mengundurkan diri dari MA Darul Huda Klepu pada tahun 2013, Abdul Malik memusatkan seluruh perhatian dan tenaganya untuk mengabdi di MTs Miftahul Huda Prangas. Pada tahun yang sama, Malik dipercaya oleh pimpinan madrasah untuk mengemban amanah sebagai Wakil Kepala (Waka) Bidang Kurikulum, menggantikan Bapak A. Bahrul Amin yang saat itu tengah disibukkan dengan tugas-tugas di tingkat kecamatan.
Penunjukan ini datang bersamaan dengan persiapan akreditasi madrasah, sebuah momentum penting yang akan menentukan kualitas dan kredibilitas MTs di mata publik. Sebagai Waka Kurikulum yang baru, Malik menghadapi tantangan besar. Meski belum berpengalaman penuh dalam bidang manajerial kurikulum, ia tak gentar. Dengan semangat dan tekad kuat, Malik memimpin tim guru selama hampir dua bulan penuh, bekerja sejak pagi hingga malam, demi menyiapkan seluruh dokumen dan perangkat administrasi akreditasi.
Yang lebih luar biasa, di tengah kesibukan tersebut, Malik juga harus belajar komputer secara otodidak, karena sebagian besar dokumen harus disusun dalam format digital. Ia tidak malu untuk bertanya, mencoba, dan memperbaiki, hingga semua dokumen selesai tepat waktu.
Berkat kerja keras dan kekompakan tim, serta rahmat Allah SWT, MTs Miftahul Huda Prangas berhasil meraih akreditasi B. Sebelumnya, sejak tahun 2006 hingga 2013, madrasah ini masih berstatus Terakreditasi C. Kenaikan status ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Malik, sekaligus langkah awal penting dalam proses transformasi dan pengembangan madrasah ke arah yang lebih baik.
Setelah sukses pada proses akreditasi, Malik tidak berhenti berbenah. Ia melanjutkan perannya sebagai Waka Kurikulum dengan melakukan berbagai perbaikan sistem pendidikan, mulai dari penyusunan jadwal pelajaran yang lebih efektif, penguatan kelengkapan perangkat ajar guru, hingga pengelolaan pelaksanaan ujian semester dan ujian madrasah.
Ia juga aktif mengusulkan penambahan guru baru kepada kepala madrasah, karena saat itu banyak guru masih merangkap mengajar dua mata pelajaran berbeda. Malik memahami bahwa kualitas pembelajaran akan lebih optimal jika guru fokus pada satu bidang kompetensi, sehingga ia terus berupaya agar rasio guru dan mata pelajaran bisa terpenuhi dengan lebih baik.
Bersama dengan Waka Kesiswaan, Malik turut mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler di MTs Miftahul Huda Prangas. Awalnya, hanya ada satu kegiatan wajib, yaitu Pramuka. Namun, untuk menyalurkan bakat dan minat siswa, mereka menambahkan ekstrakurikuler pilihan, seperti: BTQ (Baca Tulis Qur'an), Terbang Jidor (seni musik tradisional), Paduan Suara, Kerajinan membuat serut (untuk siswa laki-laki), Kerajinan membuat kotak/kardus hias (untuk siswa perempuan)
Meski dihadapkan pada berbagai kendala teknis dan keterbatasan fasilitas, kegiatan-kegiatan ini tetap berjalan dengan semangat tinggi dari para pembina dan siswa. Malik meyakini bahwa pengembangan potensi non-akademik adalah bagian penting dalam membentuk karakter siswa yang utuh.
Pada bulan September 2019, MTs Miftahul Huda Prangas kembali dijadwalkan menjalani akreditasi kedua. Dengan pengalaman sukses pada tahun 2013, Abdul Malik ditunjuk sebagai ketua tim akreditasi, memimpin tim gabungan yang terdiri dari guru-guru MTs, RA, dan MI di bawah naungan yayasan.
Ia kembali memimpin proses penyusunan perangkat akreditasi secara sistematis, dan memastikan seluruh elemen pendukung telah sesuai dengan standar nasional pendidikan. Pengalaman sebelumnya menjadi modal berharga dalam menyusun strategi, membagi tugas, dan menjaga semangat tim kerja.
Berkat usaha maksimal dan koordinasi yang solid, MTs Miftahul Huda Prangas berhasil mempertahankan akreditasi B, bahkan sempat mendekati skor akreditasi A, yang menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.
Menjadi Kepala MTs Miftahul Huda Prangas
Pada tanggal 30 September 2020, sebuah tonggak penting dalam perjalanan karier Abdul Malik tercipta. Ia resmi diangkat menjadi Kepala MTs Miftahul Huda Prangas, menggantikan H. Abdulloh, yang saat itu telah memasuki usia pensiun. Keputusan ini diambil oleh para pengurus Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI) Miftahul Huda Prangas, demi menjaga kesinambungan kepemimpinan madrasah.Namun, proses pengangkatan tidak berlangsung mudah. Ada dinamika internal di kalangan pengurus, karena sebagian pihak mengusulkan nama lain, yakni kerabat dari salah satu pengurus, untuk menggantikan H. Abdulloh. Meski demikian, mayoritas pengurus, khususnya Ketua Yayasan dan para sesepuh yayasan tetap menginginkan Abdul Malik yang menjabat. Mereka menilai rekam jejak, dedikasi, dan pengalaman Abdul Malik sebagai Waka Kurikulum sudah sangat layak untuk memimpin madrasah.
Akhirnya, setelah melewati proses musyawarah dan pertimbangan yang matang, pada bulan Oktober 2020, Abdul Malik dilantik secara resmi sebagai Kepala MTs Miftahul Huda Prangas. Acara pelantikan dihadiri oleh segenap pengurus yayasan, dewan guru, dan Pengawas Madrasah, Bapak H. Ali Imron, S.Ag. Acara tersebut menjadi simbol dimulainya babak baru dalam kepemimpinan MTs Miftahul Huda Prangas.
Masih pada bulan yang sama, atas anjuran Bapak Ali Imron, Abdul Malik mengikuti Pelatihan Kepala Madrasah yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan (BDN) Surabaya dan bertempat di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang. Pelatihan ini berlangsung selama satu minggu penuh, dengan materi yang mencakup kepemimpinan madrasah, manajemen pendidikan, penyusunan kebijakan, hingga administrasi penandatanganan ijazah.
Karena menunjukkan dedikasi tinggi dan partisipasi aktif, Abdul Malik bahkan terpilih sebagai Ketua Kelas selama pelatihan dan berhasil meraih nilai yang sangat memuaskan. Sertifikat dari pelatihan tersebut menjadi bukti resmi bahwa ia berhak menandatangani ijazah sebagai kepala madrasah.
Setelah resmi menjabat, Malik segera melakukan pembenahan internal. Pada tahun pelajaran 2020/2021, ia merekrut dua guru baru untuk memenuhi kebutuhan pengajaran mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, serta pada tahun berikutnya, menambahkan satu tenaga administrasi guna membantu kelancaran tata usaha madrasah. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan efektivitas pengelolaan madrasah.
Selain pembenahan internal, Malik juga memajukan kegiatan ekstrakurikuler. Beliau menambahkan satu program baru yaitu ekstrakurikuler pencak silat Pagar Nusa, yang bertujuan untuk membentuk kedisiplinan dan membangun rasa percaya diri siswa melalui seni bela diri tradisional yang berakar dari nilai-nilai keislaman dan budaya lokal.
Pada tahun 2022, Abdul Malik memulai rehabilitasi tiga ruang kelas di sisi utara madrasah yang kondisinya sudah tidak representatif. Untuk merealisasikan proyek ini, ia mengumpulkan para pengurus yayasan untuk melakukan musyawarah bersama, menyampaikan bahwa dana pembangunan bersumber dari hibah Provinsi Jawa Timur. Dengan demikian, pengurus tidak perlu khawatir soal pendanaan, cukup memberikan dukungan moril serta pengawasan terhadap proses pembangunan.
Setelah proses pencairan dana hibah selesai, pembangunan tiga ruang kelas baru segera dimulai. Dalam waktu sekitar tiga bulan, proyek tersebut berhasil diselesaikan dengan hasil yang memuaskan. Ketiga ruang kelas tersebut dibangun dengan konstruksi cor dak beton, yang merupakan peningkatan signifikan dibandingkan bangunan lama yang hanya berupa struktur satu lantai dengan atap genteng.
Perubahan ini tidak hanya memberikan peningkatan dari segi kekuatan dan ketahanan bangunan, tetapi juga mencerminkan visi modernisasi dan komitmen jangka panjang terhadap kualitas sarana pendidikan. Kelas-kelas baru ini kini lebih nyaman, aman, dan representatif bagi kegiatan belajar mengajar. Keberhasilan pembangunan ini menjadi simbol nyata kemajuan MTs Miftahul Huda Prangas di bawah kepemimpinan Abdul Malik, yang terus mendorong transformasi madrasah menuju arah yang lebih baik dan profesional.
Tak berhenti di situ, pada tahun 2023, Malik kembali merealisasikan rehabilitasi dua ruang kelas di sisi selatan madrasah yang sebelumnya dalam kondisi kurang layak. Program ini dibiayai melalui bantuan pusat untuk pengembangan madrasah, dengan pembagian anggaran: 35% untuk pengadaan sarana pembelajaran seperti laptop, LCD proyektor, komputer, meja kursi dan speaker kelas, sementara 65% dialokasikan untuk pengangkatan SDM Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, perbaikan fisik bangunan.
Memasuki awal tahun 2024, Abdul Malik selaku Kepala MTs Miftahul Huda Prangas kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan fasilitas dan sarana prasarana madrasah. Salah satu inisiatif penting yang ia lakukan adalah pembangunan ruang kelas lantai dua yang terletak di sebelah utara. Meskipun pembangunan ini masih sebatas rangka cor beton dan atap galvalum, keterbatasan dana tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus berinovasi. Sebagai akses menuju lantai dua, dibangun pula sebuah tangga cor dengan rangka besi yang kokoh dan aman.
Dana pembangunan ini berasal dari berbagai donatur yang peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya terhadap kemajuan MTs Miftahul Huda Prangas. Dukungan para dermawan tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan memajukan madrasah ini mendapat sambutan positif dari banyak pihak.
Masih di tahun yang sama, Abdul Malik berhasil mewujudkan pengadaan 20 pasang meja dan kursi siswa yang layak dan nyaman digunakan. Meja dan kursi tersebut merupakan sumbangan dari seorang sahabat beliau yang ingin ikut andil dalam memperjuangkan kualitas pendidikan di madrasah.
Setelah sebelumnya merehabilitasi ruang kelas sebelah selatan, pada pertengahan tahun 2024 Abdul Malik kembali melaksanakan program rehabilitasi ruang guru dan ruang kelas yang menghadap ke barat, serta membangun sebuah gedung serbaguna di lantai dua. Proyek pembangunan ini bersumber dari dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan berlangsung selama tiga bulan, dimulai pada bulan Juli dan rampung pada bulan September.
Sebelum pembangunan dimulai, Malik terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan ketua pengurus dan para sesepuh yayasan. Dukungan dan restu dari para pengurus diperoleh setelah Malik menjelaskan secara rinci bahwa dana pembangunan sepenuhnya berasal dari hibah pemerintah, sehingga tidak akan membebani yayasan secara finansial. Para pengurus pun menyambut kabar baik ini dengan penuh semangat dan rasa syukur.
Pembangunan ini berhasil mewujudkan ruang guru yang lebih representatif, ruang kelas yang lebih nyaman, serta gedung serbaguna di lantai dua yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, baik akademik maupun non-akademik. Fasilitas baru ini sangat menunjang proses pendidikan di MTs Miftahul Huda Prangas dan menambah daya tarik madrasah di mata masyarakat.
Setelah pembangunan selesai, pada akhir bulan September 2024, MTs Miftahul Huda Prangas harus menghadapi proses akreditasi karena SK akreditasi tahun 2019 telah habis masa berlakunya. Menyadari pentingnya proses ini, Abdul Malik segera mengumpulkan seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk menyusun dan melengkapi seluruh dokumen serta data yang dibutuhkan.
Seluruh civitas akademika bekerja keras, bahu membahu, siang dan malam, demi menyukseskan akreditasi. Proses ini juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa MTs Miftahul Huda Prangas benar-benar berkomitmen dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan sesuai standar nasional.
Pelaksanaan visitasi akreditasi oleh tim asesor tidak hanya menjadi proses penilaian administratif, tetapi juga merupakan ajang pembuktian atas segala usaha dan perbaikan yang telah dilakukan selama ini. Tim asesor menilai tidak hanya sarana dan prasarana, tetapi juga manajemen sekolah, kualitas pengajaran, serta implementasi kurikulum.
Setelah menanti selama sekitar 1 hingga 1,5 bulan, kabar gembira akhirnya tiba. Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PDM, MTs Miftahul Huda Prangas berhasil mempertahankan status akreditasi dengan kategori “B”, yang berarti “Baik”. Awalnya, hasil akreditasi tercatat dalam SK nomor 267/BAN-PDM/SK/2024, namun kemudian diperbarui dengan SK terbaru nomor 014/BAN-PDM/SK/2025.
Capaian ini merupakan bukti nyata keberhasilan kolektif seluruh warga madrasah, serta dedikasi tak kenal lelah dari Abdul Malik sebagai kepala madrasah. Hasil akreditasi ini tidak hanya berdampak pada reputasi lembaga, tetapi juga menjadi panduan strategis dalam pengembangan lebih lanjut, baik dari aspek kuantitas (jumlah peserta didik dan fasilitas), maupun kualitas (pengelolaan, pembelajaran, dan pelayanan pendidikan).
Tidak berhenti sampai di situ, pada bulan Mei 2025, Abdul Malik kembali mewujudkan pengadaan 20 pasang meja dan kursi siswa untuk menggantikan furnitur lama yang sudah tidak layak pakai. Bantuan ini berasal dari teman-teman dan sahabat dekat yang tetap menunjukkan kepedulian terhadap kemajuan MTs Miftahul Huda Prangas.
Meja dan kursi baru tersebut langsung digunakan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, sekaligus menjadi bagian dari upaya peningkatan kenyamanan dan efektivitas pembelajaran. Semoga bantuan ini membawa keberkahan, menjadi amal jariyah bagi para donatur, dan turut menyukseskan cita-cita besar madrasah dalam mencetak generasi yang unggul, berakhlak, dan berilmu.